Sunday, 22 July 2012

Perbedaan Penetapan Awal Puasa Ramadhan 1433 Hijriyah Disikapi Dengan Iman Oleh Masyarakat Patikraja

Perbedaan penetapan awal Ramadhan sering menimbulkan kebingungan masyarakat awam,namun ternyata di Desa Patikraja perbedaan penetapan awal Ramadhan tahun 1433 Hijriyah tidak menjadi kontrofersi yang membawa efek kemasyarakatan.Sedangkan mengenai mengapa terjadi perbedaan tersebut banyak juga yang belum mengerti secara benar.Hanya toleransi yang tinggi yang masih kental di Masyarakat Patikraja-lah yang mampu memperkuat tali silaturahmi dan kegotong royongan.Ada memang banyak juga masyarakat Patikraja mengerti secara pasti alasan dan dasar mengapa terjadi perbedaan,namun tidak lebih dari 40 %.Kondisi seperti ini harus dimaklumi dan diharapkan tak ada yang menyulut dengan merasa paling benar dengan pendapatnya,sebab ketaatan masyarakat Desa Patikraja mengikuti hasil Sidang istbat pemerintah sebagai salah satu ujud ketaatan terhadap pemimpin dan negara masih kuat dan ini menjadi ciri khas tersendiri dari penduduk Patikraja yang masih kuat rasa kegotong-royongan dan ke-nasionalisme-annya.
Lalu bagaimanakah sesungguhnya dasar yang digunakan masing-masing dalam menentukan awal Ramadhan maupun awal bulan Syawal ? di bawah ini penjabarannya..

Hisab yang dipakai Muhammadiyah adalah hisab wujud al hilal, yaitu metode menetapkan awal bulan baru yang menegaskan bahwa bulan Qamariah baru dimulai apabila telah terpenuhi tiga parameter: telah terjadi konjungsi atau ijtimak, ijtimak itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan pada saat matahari terbenam bulan berada di atas ufuk. Sedangkan argumen mengapa Muhammadiyah memilih metode hisab, bukan rukyat, adalah sebagai berikut.

Pertama, semangat Al Qur’an adalah menggunakan hisab. Hal ini ada dalam ayat “Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan” (QS 55:5). Ayat ini bukan sekedar menginformasikan bahwa matahari dan bulan beredar dengan hukum yang pasti sehingga dapat dihitung atau diprediksi, tetapi juga dorongan untuk menghitungnya karena banyak kegunaannya. Dalam QS Yunus (10) ayat 5 disebutkan bahwa kegunaannya untuk mengetahui bilangan tahun dan perhitungan waktu.

Kedua, jika spirit Qur’an adalah hisab mengapa Rasulullah Saw menggunakan rukyat? Menurut Rasyid Ridha dan Mustafa Az Zarqa, perintah melakukan rukyat adalah perintah ber-ilat (beralasan). Ilat perintah rukyat adalah karena ummat zaman Nabi saw adalah ummat yang ummi, tidak kenal baca tulis dan tidak memungkinkan melakukan hisab. Ini ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam hadits riwayat Al Bukhari dan Muslim,“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi; kami tidak bisa menulis dan tidak bisa melakukan hisab. Bulan itu adalah demikian-demikian. Yakni kadang-kadang dua puluh sembilan hari dan kadang-kadang tiga puluh hari”. Dalam kaidah fiqhiyah, hukum berlaku menurut ada atau tidak adanya ilat. Jika ada ilat, yaitu kondisi ummi sehingga tidak ada yang dapat melakukan hisab, maka berlaku perintah rukyat. Sedangkan jika ilat tidak ada (sudah ada ahli hisab), maka perintah rukyat tidak berlaku lagi. Yusuf Al Qaradawi menyebut bahwa rukyat bukan tujuan pada dirinya, melainkan hanyalah sarana. Muhammad Syakir, ahli hadits dari Mesir yang oleh Al Qaradawi disebut seorang salafi murni, menegaskan bahwa menggunakan hisab untuk menentukan bulan Qamariah adalah wajib dalam semua keadaan, kecuali di tempat di mana tidak ada orang mengetahui hisab.

Ketiga, dengan rukyat umat Islam tidak bisa membuat kalender. Rukyat tidak dapat meramal tanggal jauh ke depan karena tanggal baru bisa diketahui pada H-1. Dr.Nidhal Guessoum menyebut suatu ironi besar bahwa umat Islam hingga kini tidak mempunyai sistem penanggalan terpadu yang jelas. Padahal 6000 tahun lampau di kalangan bangsa Sumeria telah terdapat suatu sistem kalender yang terstruktur dengan baik.

Keempat, rukyat tidak dapat menyatukan awal bulan Islam secara global. Sebaliknya, rukyat memaksa umat Islam berbeda memulai awal bulan Qamariah, termasuk bulan-bulan ibadah. Hal ini karena rukyat pada visibilitas pertama tidak mengcover seluruh muka bumi. Pada hari yang sama ada muka bumi yang dapat merukyat tetapi ada muka bumi lain yang tidak dapat merukyat. Kawasan bumi di atas lintang utara 60 derajad dan di bawah lintang selatan 60 derajad adalah kawasan tidak normal, di mana tidak dapat melihat hilal untuk beberapa waktu lamanya atau terlambat dapat melihatnya, yaitu ketika bulan telah besar. Apalagi kawasan lingkaran artik dan lingkaran antartika yang siang pada musim panas melabihi 24jam dan malam pada musim dingin melebihi 24 jam.

Kelima, jangkauan rukyat terbatas, dimana hanya bisa diberlakukan ke arah timur sejauh 10 jam. Orang di sebelah timur tidak mungkin menunggu rukyat di kawasan sebelah barat yang jaraknya lebih dari 10 jam. Akibatnya, rukyat fisik tidak dapat menyatukan awal bulan Qamariah di seluruh dunia karena keterbatasan jangkauannya. Memang, ulama zaman tengah menyatakan bahwa apabila terjadi rukyat di suatu tempat maka rukyat itu berlaku untuk seluruh muka bumi. Namun, jelas pandangan ini bertentangan dengan fakta astronomis, di zaman sekarang saat ilmu astronomi telah mengalami kemajuan pesat jelas pendapat semacam ini tidak dapat dipertahankan.

Keenam, rukyat menimbulkan masalah pelaksanaan puasa Arafah. Bisa terjadi di Makkah belum terjadi rukyat sementara di kawasan sebelah barat sudah, atau di Makkah sudah rukyat tetapi di kawasan sebelah timur belum. Sehingga bisa terjadi kawasan lain berbeda satu hari dengan Makkah dalam memasuki awal bulan Qamariah. Masalahnya, hal ini dapat menyebabkan kawasan ujung barat bumi tidak dapat melaksanakan puasa Arafah karena wukuf di Arafah jatuh bersamaan dengan hari Idul Adha di ujung barat itu. Kalau kawasan barat itu menunda masuk bulan Zulhijah demi menunggu Makkah padahal hilal sudah terpampang di ufuk mereka, ini akan membuat sistem kalender menjadi kacau balau

Argumen-argumen di atas menunjukkan bahwa rukyat tidak dapat memberikan suatu penandaan waktu yang pasti dan komprehensif. Dan karena itu tidak dapat menata waktu pelaksanaan ibadah umat Islam secara selaras diseluruh dunia. Itulah mengapa dalam upaya melakukan pengorganisasian system waktu Islam di dunia internasional sekarang muncul seruan agar kita menggunakan hisab dan tidak lagi menggunakan rukyat. Temu pakar II untuk Pengkajian Perumusan Kalender Islam (Ijtima’ al Khubara’ as Sani li Dirasat Wad at Taqwimal Islami) tahun 2008 di Maroko dalam kesimpulan dan rekomendasi (at Taqrir al Khittami wa at Tausyiyah) menyebutkan: “Masalah penggunaan hisab: para peserta telah menyepakati bahwa pemecahan problematika penetapan bulan Qamariah di kalangan umat Islam tidak mungkin dilakukan kecuali berdasarkan penerimaan terhadap hisab dalam menetapkan awal bulan Qamariah, seperti halnya penggunaan hisab untuk menentukan waktu-waktu shalat”.

demikian pendapat menurut penganut hisab seperti ormas Muhammadiyah dll.
(Sumber :http://fimadani.com/mengapa-muhammadiyah-menggunakan-metode-hisab/)

Ulasan Pendapat dengan berpegang Ru'yat dari seorang ulama :

Ketika kita mendengar informasi ru’yat, tidak jarang diantara kaum muslim menolak berita tersebut dengan alasan: secara astronomi bulan tidak mungkin wujud atau muncul di daerah tersebut, dengan alasan waktu ijtima’ yang terlalu pendek, ketinggian bulan yang tidak sampai 4 derajat, dan sebagainya. Mereka menyatakan, bahwa hasil ru’yat semacam itu wajib ditolak oleh kaum muslim. Sebab, secara astronomi bulan belum mungkin terlihat atau wujud di daerah tersebut.

Pendapat semacam ini harus ditolak, bahkan telah bertentangan dengan nash-nash syara’. Untuk menepis keraguan mengenai masalah ini, kami perlu memberikan penjelasan kepada kaum muslim sebagai berikut:

Pertama, metode syar’iy untuk menetapkan awal dan akhir Ramadhan adalah ru’yat (observasi mata secara langsung), bukan hisab. Dengan kata lain, penetapan hilal harus didasarkan pada kesaksian seorang adil yang menyaksikan bulan secara langsung, bukan berdasarkan perhitungan. Sedangkan jumlah saksi, syara’ telah menetapkan, bahwa kesaksian dalam masalah ru’yatul hilal cukup dilakukan oleh seorang yang adil. Ini didasarkan pada riwayat berikut ini:

“Telah diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Ada seorang Arab mendatangi Rasulullah saw dan berkata: ‘Aku telah melihat bulan (hilal), yakni bulan Ramadhan.’ Kemudian Rasulullah Saw bertanya: ‘Apakah engkau telah bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?’ Laki-laki itu menjawab: ‘Benar’. Rasulullah bertanya lagi: ‘Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad itu Rasulullah?’ Laki-laki itu menjawab: ‘Benar’. Rasulullah Saw bersabda: ‘Wahai Bilal, berdirilah dan kumandangkan azan, dan beritahukanlah agar mereka (kaum Muslim) puasa besok.”

Dengan demikian, penetapan awal dan akhir Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan kesaksian seorang saksi adil yang menyatakan bahwa ia telah melihat bulan dengan mata kepalanya sendiri, bukan berdasarkan bukti-bukti yang dzanniy (misalnya hisab). Sebab, seseorang tidak boleh memberikan kesaksian kecuali didasarkan pada sesuatu yang menyakinkan. Dengan kata lain, seseorang sah bersaksi jika ia menyaksikan sendiri tanpa ada sedikitpun keraguan. Kesaksian tidak sah, jika dibangun di atas bukti yang masih dzan (keraguan) (Sayyid Sabbiq, Fiqh al-Sunnah; Ahmad Da’ur, Ahkaam al-Bayyinaat; dan lain-lain). Rasulullah Saw telah bersabda kepada para saksi:

“Jika kalian melihatnya seperti kalian melihat matahari, maka bersaksilah. (Namun) jika tidak, maka tinggalkanlah.” (Ahmad al-Da’ur, al-Ahkaam al-Bayyinaat, hal.6, 1965, tanpa penerbit).

Berdasarkan hadits-hadits di atas kita bisa menyimpulkan bahwa penetapan awal dan akhir Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan bukti-bukti syar’iy, bukan berdasarkan bukti-bukti non syar’iy. Allah SWT tidak memerintahkan kita untuk mengawali dan mengakhiri Ramadlan dengan bukti-bukti astronomis yang masih dzanniy. Bahkan, kalkulasi astronomis tidak boleh digunakan sebagai bukti untuk membuat kesaksian rukyatul hilal. Astronom dilarang bersaksi, jika ia tidak menyaksikan sendiri, atau mempunyai bukti yang menyakinkan. Seorang qadliy wajib menolak kesaksiannya. Sebab, kesaksian hanya bisa diajukan jika didasarkan pada bukti-bukti yang menyakinkan. Padahal, kalkulasi hisab bukanlah bukti yang menyakinkan, dan masih mengandung keraguan. Oleh karena itu, seseorang dilarang bersaksi telah merukyat hilal, berdasarkan bukti kalkulasi hisab.

Benar, hasil pantauan bulan yang didasarkan pada hisab tidak boleh dijadikan bukti untuk memberikan kesaksian. Sebab, ahli hisab tidak menyandarkan kesaksiannya pada sesuatu yang bersifat pasti (menyakinkan), atau melakukan observasi secara langsung (melihat). Mereka menetapkan hilal hanya berdasarkan perhitungan-perhitungan yang tidak menyakinkan. Untuk itu, secara syar’iy, mereka tidak boleh memberikan kesaksiannya tentang rukyatul hilal. Hanya orang yang menyaksikan secara langsung saja yang boleh memberikan kesaksiannya. Ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw, “Jika kalian melihatnya seperti melihat matahari, maka bersaksilah, jika tidak tinggalkanlah.”

Sesungguhnya, ahli hisab tidak menyaksikan bulan secara langsung. Ia hanya menyandarkan pada perhitungan-perhitungan yang bersifat dzanniy. Sebab, meskipun mereka mengklaim perhitungan hisabnya memiliki akurasi yang tinggi, akan tetapi tetap saja tidak menyakinkan (absolut). Lebih-lebih lagi ilmu hisab tidak bisa memprediksi cuaca yang ada di daerah itu. Mereka tidak bisa memastikan bahwa bulan bisa terlihat atau tidak di suatu daerah. Sebab, bisa saja daerah tersebut berawan, atau hujan, yang menjadikan seseorang tidak bisa melakukan observasi secara langsung.

Walhasil, kesaksian orang yang melihat hilal tidak bisa digugurkan oleh perhitungan ahli hisab. Kesaksian seseorang hanya bisa digugurkan oleh sebab-sebab syar’iy. Jika syarat-syarat kesaksian tidak terpenuhi, maka kesaksiannya bisa gugur. Misalnya, saksi tidak adil dan terkenal ketidakjujurannya, dan lain sebagainya. Dalam kondisi semacam ini, kesaksiannya bisa gugur.

Kedua, dalam menetapkan awal dan akhir Ramadhan, Rasulullah Saw sendiri tidak meminta kita untuk memastikan apakah bulan benar-benar sudah wujud atau tidak. Rasulullah Saw hanya memerintahkan kaum muslim untuk rukyatul hilal (memantau bulan) pada tanggal 29 Sya’ban atau 29 Ramadhan. Jika bulan berhasil dilihat dan tidak terhalang mendung, atau tidak terhambat oleh cuaca, maka esok paginya kita diwajibkan berpuasa, atau hari raya. Sebaliknya, meskipun bulan sudah wujud, dan memenuhi syarat-syarat astronomi untuk bisa dilihat, namun jika kaum muslim tidak berhasil melihatnya, karena faktor cuaca, atau karena sebab-sebab yang lain, maka esoknya kita tidak berpuasa, alias harus digenapkan (istikmal). Ini didasarkan pada sabda Rasulullah Saw:

“Berpuasalah karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal), maka apabila mendung (menutupi) kalian maka sempurnakanlah hitungan menjadi tiga puluh hari.” [HR. an-Nasa’i].

Hadits ini dengan sangat jelas memberikan pengertian, bahwa walaupun bulan sudah wujud –memenuhi parameter-parameter astronomi–, akan tetapi jika terhalang mendung, maka kita harus menyempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Seandainya hisab bisa dijadikan bayyinah (bukti), tentunya faktor mendung tidak lagi relevan. Jika bulan sudah wujud dan sudah sangat mungkin untuk dilihat di suatu daerah –berdasarkan kalkulasi astronomi–, akan tetapi, jika terhalang mendung –sehingga tidak bisa dirukyat–, maka puasa tetap tidak boleh dilakukan esok harinya. Sebab, Rasulullah memerintahkan kita hanya merukyat, bukan memastikan bulan wujud atau tidak berdasarkan perhitungan astronomi. Perkataan Rasulullah Saw di atas, menunjukkan, bahwa sesungguhnya beliau Saw memahami bahwa bulan telah wujud dan sudah sangat mungkin untuk dilihat, akan tetapi tetap saja beliau memerintahkan kaum muslim untuk menggenapkan jika mereka tidak berhasil merukyatnya karena sebab-sebab tertentu (misalnya karena mendung). Untuk itu, yang terpenting adalah apakah hilal berhasil dilihat atau tidak, bukan sudah wujud atau belum.

Oleh karena itu, seandainya perhitungan astronomi menetapkan bahwa bulan telah wujud dan mungkin dilihat di suatu daerah, namun tidak secara otomatis, esok harinya kaum muslim harus sudah memulai melakukan ibadah puasa. Sebab, bisa saja daerah tersebut tertutup mendung tebal yang menghalangi proses rukyat. Meskipun secara astronomi bulan sudah terlihat, namun tidak secara otomatis kaum muslim harus memulai bulan Ramadlan pada hari itu juga. Sebab, bisa jadi penglihatannya terhalang oleh mendung. Ketika di daerah itu terhalang mendung, maka kaum muslim tetap harus menyempurnakan bulan sya’ban menjadi 30 hari.

Ini semakin menguatkan, bahwa hisab tidak bisa membatalkan rukyat. Rukyat hanya akan gugur, jika kesaksiannya dilakukan oleh orang-orang yang tidak adil, ataupun kesaksiannya tidak masuk akal.

Ketiga, jika menurut astronomi ketinggian hilal belum cukup, atau jarak waktu ijtima’ dengan ghurub (matahari tenggelam) pendek, lantas ada orang bersaksi menyaksikan bulan, apakah yang disaksikan orang tersebut hilal atau bukan? Sesungguhnya, secara syar’iy kita tidak diperintahkan untuk menelusur hal ini lebih lanjut. Sebab, selama saksi menyatakan bahwa ia melihat dengan mata kepala sendiri, dan ia terkenal orang-orang yang adil, tsiqat, dan tidak meragukan, maka secara syar’iy kita wajib menerima kesaksiannya. Sebab, beberapa kejadian astronomi yang aneh juga sempat terjadi. Kejadian seperti ini sering disebut dengan “rukyat aneh”. Misalnya, berdasarkan perhitungan hisab, di suatu daerah ketinggian bulannya tidak memenuhi syarat akan tetapi ternyata bulan terlihat dengan jelas di daerah tersebut. Bahkan ada daerah yang ijtima’nya ba’da al-ghurub ternyata dilaporkan bahwa bulan tampak di daerah tersebut, contohnya kasus di Ukraina dan daerah Asia Tengah, dan juga di Indonesia. Selain itu, kita bisa mempertanyakan juga kepada ahli hisab, dengan perhitungan mana, dan hisab versi mana ia bisa menentukan bahwa di daerah tersebut ketinggian bulan belum cukup?

Keempat, selama ini orang yang mengaku melihat bulan, atau yang bersaksi melihat bulan dikesankan buta astronomi, atau tidak mengerti astronomi. Bahkan dibuat cerita mengada-ada mengenai orang yang melakukan rukyat. Misalnya, rukyatnya menghadap timur, selatan, mengalami halusinasi, dan lain sebagainya. Akibatnya, seringkali hasil rukyat yang dilaporkan di suatu negeri dikritik hanya karena tidak memenuhi perhitungan hisab sebagian ahli hisab. Padahal, orang-orang yang melakukan rukyat bukanlah orang bodoh yang tidak mengerti ilmu hisab beserta kalkulasi-kalkulasinya. Orang yang melakukan rukyat, juga memperhatikan ilmu-ilmu hisab untuk membantu mereka tatkala melakukan observasi. Mereka tidak ngawur dalam melakukan rukyat dan kalkulasi hisabnya.

Di sisi yang lain, perlu diketahui juga, bahwa para ahli hisab sendiri berbeda-beda pendapat dalam hal menetapkan waktu ijtima’, parameter-parameter mengenai wujud, imkaan rukyat, dan lain sebagainya. Bahkan, rumus-rumus yang mereka gunakan juga berbeda-beda dengan tingkat perbedaan yang lebar, bahkan ada yang perbedaan perhitungannya sampai satu hari. Perbedaan-perbedaan ini tentunya berakibat, sebagian ahli hisab menyatakan, bahwa suatu daerah dianggap belum layak untuk melihat bulan, sedangkan menurut ahli hisab yang lain sudah layak. Walhasil, kita bisa mengajukan pertanyaan, menurut perhitungan yang mana, dan rumus yang mana.

Jadi, kita tidak perlu menggubris orang yang meragukan hasil rukyat yang sering digembar-gemborkan ahli hisab, jika telah memenuhi syarat-syarat kesaksian syar’iy. Cukuplah Allah dan RasulNya sebagai panutan kita, bukan ahli hisab. Beliau Saw hanya meminta kita untuk melihat bulan, dan bersaksi berdasarkan penglihatan secara langsung, bukan berdasarkan hitungan-hitungan hisab yang masih dzanniy. Wallahu A’lam bi al-Shawab
(Sumber :http://konsultasi.wordpress.com/2007/01/18/kesaksian-hilal-yang-bertentangan-dengan-ilmu-astronomi/)


Semua kembali kepada iman dan keyakinan kita masing-masing lebih memilih Syar'i atau lebih memilih kepada logika dsb.Yang terpenting adalah :"Hisab tidak bisa membatalkan rukyat. Rukyat hanya akan gugur, jika kesaksiannya dilakukan oleh orang-orang yang tidak adil, ataupun kesaksiannya tidak masuk akal." ini menurut dasar dasar Sar'i dan masyarakat pada umumnya mengikuti sidang Itsbat Pemerintah karena lebih sempurna mengikuti hukum-hukum Islam karena di dalamnya juga terdapat ketaatan terhadap pemimpin seperti yang dipesankan oleh Rasullullah SAW,Juga mengikuti apa yang dilakukan pemerintah yang selaras dengan apa yang di sunnahkan Rasulullah SAW dalam menentukan penetapan awal Ramadhan .

No comments:

Post a Comment

Mohon Tidak memberikan komentar berbau "SARA"

POS TERPOPULER

DESA PATIKRAJA PERNAH JADI IBUKOTA BANYUMAS KANOMAN

Diceriterakan bahwa pengaruh Kongsi dagang VOC semakin kuat di Nusantara,sistem yang diterapkan pada waktu itu adalah mengambil para raja-r...

Posting Paling Sering Dikunjungi