Sunday, 29 October 2017

PATIKRAJA DALAM CATATAN SEJARAH NASIONAL YANG TERLUPAKAN

Slamet Gandhiwijaya adalah seorang tokoh Murba Purwokerto yang menjadi penyandang dana terbesar. Beliau menjual sawah untuk biaya kongres,beliau menjadi Ketua Agitasi dan Propaganda setelah Tan Malaka mendeklarasikan Partai Murba pada November 1948 di Purwokerto.Beliau pernah dibuang ke Digul sebab aktif di gerakan kiri menentang Belanda.Dari ceritera salah satu menantu beliau yang bernama ibu Tuti yang menempati rumah terakhir Bp Slamet Gandawijaya RT 04 / RW 03 Desa Patikraja diperoleh keterangan bahwa Slamet Gandawijaya merupakan pria kelahiran madiun Jawa Timur th 1901 menikah dengan seorang wanita bernama Martini, yang kelahiran Purwokerto, 5 Oktober 1920.
Saat ditemui oleh penulis yang datang bersama Bp Khotibul Umam Wiranu MMhum seorang anggota DPR-RI dari Partai Demokrat,Ibu Tuti menceriterakan karakter Bapak mertuanya Slamet Gandawijaya adalah seorang yang disiplin taat beragama juga memiliki kharisma kepemimpinan yang disegani oleh siapa saja yang melihat dan mengenalnya.Tentang perjuangan Slamet Gandawijaya dalam perintis kemerdekaan penulis mendapatkan sedikit sekali data dari Ibu Tuti,selain waktu yang kurang luas karena menjelang waktu sholat jum'at juga kesempatan waktu mengabadikan beberapa benda sejarah yang masih ada maka data dan ceritera tak dapat kami peroleh.Maka dalam posting kali ini penulis mengutip artikel di sebuah blog yang berkaitan dengan Bp Slamet Gandawijaya.

 Foto Bp Khotibul Umam Wiranu saat berkunjung ke rumah ibu Tuti di RT 04 / RW 03 Desa Patikraja.

Bp Khotibul Umam Wiranu berpose di meja sejarah tempat Jend Soedirman,Tan Malaka,Bp slamet Gandawijaya makan bersama dan berunding tentang pergerakan melawan Belanda


Berikut potongan kutipan berkait Slamet Gandawijaya :


Purwokerto, kota kecil di selatan Jawa Tengah, menyala-nyala. Bintang Merah, bendera Murba, berderet-deret setengah kilometer dari alun-alun kota hingga Societeit, balai pertemuan merangkap gedung bioskop. Tiga ratusan orang memenuhi bangunan itu. Mereka wakil dari 141 organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan laskar.

Nirwan, guru Sekolah Rakyat dan aktivis Murba, mengingat petang itu, 4 Januari 1946, tepat seratus hari pasukan Sekutu mendarat di Jawa. “Orang berduyun-duyun ke kota ingin menyaksikan tamu yang datang,” ujar pria yang saat itu berusia 16 tersebut.
Rapat politik itu dihadiri antara lain para pemimpin pusat Partai Sosialis, Partai Komunis Indonesia, Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Partai Buruh Indonesia, Hizbullah, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi, dan Persatuan Wanita Indonesia. Rakyat jelata berjejal-jejal. Mereka antusias, karena Panglima Besar Jenderal Soedirman juga di tengah-tengah mereka.

Nirwan menuturkan peserta rapat tiba dengan kereta api. Mereka yang tiba dari Purbalingga, Wonosobo, Semarang, Yogyakarta, dan Solo turun di Stasiun Timur. Adapun peserta dari Jawa Barat turun di Stasiun Raya, kini stasiun di kota itu. Para kader Murba dari daerah dengan sukarela menyumbang pelbagai barang: sekadar beras atau gula merah. Tak hanya untuk konsumsi rapat, barang-barang yang terkumpul dijual untuk keperluan lain.

Murba ketika itu belum menjadi partai, melainkan gerakan rakyat jelata. Tan Malaka menggagasnya buat melawan kapitalisme dan penjajahan serta untuk menggapai kesejahteraan. Purwokerto dianggap merupakan basis kuat, karena itu Tan memilihnya untuk tempat kongres para pemimpin berbagai organisasi.

Di kota ini, Tan bersahabat kental dengan Slamet Gandhiwijaya. Tokoh Murba Purwokerto ini menjadi penyandang dana terbesar. Dari Slamet pula Nirwan mengenal sosok Tan Malaka. “Slamet menjual sawah untuk biaya kongres,” kata Nirwan, yang menjadi Ketua Agitasi dan Propaganda setelah Tan mendeklarasikan Partai Murba pada November 1948.

Slamet pernah dibuang ke Digul karena aktif di gerakan kiri menentang Belanda. Saat pendudukan Jepang, pria kelahiran Madiun, Jawa Timur, 1901 ini dipercaya memimpin sejumlah proyek pembangunan, seperti jalan dan waduk. Belum semua proyek rampung, Sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki.

Jepang kalah dan lari dari daerah pendudukannya di Asia Timur, termasuk Indonesia. Ketika Jepang menyingkir dari Jawa, menurut peneliti dan penulis buku tentang Tan Malaka, Harry A. Poeze, koper Slamet masih penuh uang. Duit ini yang dipakai untuk biaya gerakan politik.

Slamet tinggal di dekat Stasiun Kedungrandu, Kecamatan Patikraja, Banyumas, 10 kilometer dari Kota Purwokerto. Dulu, perusahaan kereta api Belanda, Serajoedal Stoomtram Maatschappij dan Serajoedal Staatspoor, mengoperasikan kereta api Cilacap-Stasiun Raya Purwokerto-Gombong yang melalui Kedungrandu. Jalur ini melintas di dekat aliran Sungai Serayu. Tapi pada 1936, dua perusahaan itu bangkrut.

Ada tiga rumah bekas petinggi perusahaan kereta api Belanda di Kedungrandu. Satu di antaranya ditempati keluarga Slamet. Di kiri-kanan rumah Slamet terhampar sawah. Di kejauhan tampak bukit-bukit hijau. Rumah Slamet menghadap ke utara, berpagar pohon petai cina. Di belakang rumah mengalir Kali Pematusan, sekaligus pembatas rumah dengan sawah. “Dulu saya suka memetik klandingan (petai cina) di situ,” ungkap Nasirun, 66 tahun, tetangga Slamet.

Rumah berarsitektur Belanda ini telah dilengkapi telepon dan garasi mobil. Darmuji, 76 tahun, penduduk setempat, mengenal Slamet sebagai priyayi terpandang dan kaya di Patikraja. Orang kebanyakan, termasuk Darmuji, umumnya takut bertamu. “Saya dan Den Slamet kan beda,” katanya.

Ketika pergi ke Purwokerto, Tan selalu menginap di sini. Di rumah ini pula Tan bertemu dengan Soedirman sebelum kongres. Slamet dan istrinya, Martini, memanggil Tan dengan sebutan Ohir. Mungkin diambil dari bahasa Belanda, ouheer, yang bermakna orang tua. Perintis Gunawan, 49 tahun, anak Slamet yang kini tinggal di Cireundeu, Tangerang, mendapat kisah ini dari ibunya.

Jika mendengar kabar mata-mata musuh mencari, Tan segera bersembunyi di perbukitan. Martini lihai merahasiakannya. “Kalau Tan lari ke selatan, ibu saya bilang larinya ke utara,” kata Perintis. Rumah Slamet dijaga Nero, anjing peliharaan. Ada juga kolam ikan. Di sini ada ikan yang dinamai Yopi. “Jika tangan Tan menaburkan pakan, Yopi langsung menyaut,” kata Perintis, mengingat kisah dari ibunya. Martini, yang kelahiran Purwokerto, 5 Oktober 1920, adalah aktivis perempuan Muhammadiyah, Aisyiah. Ia meninggal November tahun lalu.

Rumah Slamet sejak 1977 menjadi gedung Koperasi Unit Desa Patikraja. Memang, ia telah mengosongkan rumah itu seusai Agresi Belanda II pada Desember 1948. Ia membangun rumah di atas tanah milik sendiri, satu kilometer dari rumah lama. Slamet mengembalikan rumah lama kepada negara. Sejak itu rumah tidak dirawat. Kayu lapuk dan tembok ambrol. Kini, di atasnya berdiri bangunan baru sejumlah rumah. Bekas Stasiun Kedungrandu dibeli Si Kuan, pengusaha setempat, untuk penggilingan padi, yang hingga kini bertahan.

Di rumah baru, Slamet membuka usaha furnitur. Martini menekuni industri rumah kain batik. Slamet menempati rumah ini hingga ia meninggal 4 September 1966. Jenazahnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjung Nirwana, Purwokerto, sebagai perintis kemerdekaan. Kini, meja dan kursi tempat Tan berdiskusi dengan Soedirman sambil makan masih terawat. Meja kayu jati bulat telur itu semula hitam. Pelitur ulang mengubahnya menjadi cokelat.

Artikel selengkapnya bisa Anda baca di : http://jejaksejarah.weebly.com/jejak-sejarah/tan-malaka-si-mata-nyalang-di-balai-societeit





ResultsSearchPatikraja, Desa Patikraja,legenda Patikraja, sejarah Desa Patikraja,Patikraja Banyumas, Desa Patikraja,sidabowa, Desa Patikraja,Desa Pegalongan,Desa Sidabowa,Desa Sokawera,Desa Kesungrandu,Desa Sokawera Kidul,Desa Wlahar Kulon,Kecamatan Ajibarang, Desa Ajibarang Kulon, Desa Ajibarang Wetan, Desa Banjarsari, Desa Ciberung, Desa Darmakradenan, Desa Jingkang, Desa Kalibenda, Desa Karangbawang, Desa Kracak, Desa Lesmana, Desa Pancasan, Desa Pancurendang, Desa Pandansari, Desa Sawangan, Desa Tipar, Kecamatan Banyumas, Desa Binangun, Desa Danaraja, Desa Dawuhan, Desa Kalisube, Desa Karangrau, Desa Kedunggede, Desa Kedunguter, Desa Kejawar, Desa Papringan, Desa Pasinggangan, Desa Pekunden, Desa Sudagaran, Kecamatan Baturaden, Desa Purwosari, Desa Karangmangu, Desa Karangsalam Lor, Desa Karangtengah, Desa Kebumen, Desa Kemutug Kidul, Desa Kemutug Lor, Desa Ketenger, Desa Kutasari, Desa Pamijen, Desa Pandak, Desa Rempoah, Kecamatan Cilongok, Desa Batuanten, Desa Cikidang, Desa Cilongok, Desa Cipete, Desa Gununglurah, Desa Jatisaba, Desa Kalisari, Desa Karanglo, Desa Karangtengah, Desa Kasegeran, Desa Langgongsari, Desa Pageraji, Desa Panembangan, Desa Panusupan, Desa Pejogol, Desa Pernasidi, Desa Rancamaya, Desa Sambirata, Desa Sokawera, Desa Sudimara, Kecamatan Gumelar, Desa Cihonje, Desa Cilangkap, Desa Gancang, Desa Gumelar, Desa Karangkemojing, Desa Kedungurang, Desa Paningkaban, Desa Samudra, Desa Samudra Kulon, Desa Tlaga, Kecamatan Jatilawang, Desa Adisara, Desa Bantar, Desa Gentawangi, Desa Gunung Wetan, Desa Karanganyar, Desa Karanglewas, Desa Kedungwringin, Desa Margasana, Desa Pekuncen, Desa Tinggarjaya, Desa Tunjung, Kecamatan Kalibagor, Desa Kalibagor, Desa Kalicupak Kidul, Desa Kalicupak Lor, Desa Kaliori, Desa Kalisogra Wetan, Desa Karangdadap, Desa Pajerukan, Desa Pekaja, Desa Petir, Desa Srowot, Desa Suro, Desa Wlahar Wetan, Kecamatan Karanglewas, Desa Babakan, Desa Jipang, Desa Karanggude Kulon, Desa Karangkemiri, Desa Karanglewas Kidul, Desa Kediri, Desa Pangebatan, Desa Pasir Kulon, Desa Pasir Lor, Desa Pasir Wetan, Desa Singasari, Desa Sunyalangu, Desa Tamansari, Kecamatan Kebasen, Desa Adisana, Desa Bangsa, Desa Cindaga, Desa Gambarsari, Desa Kalisalak, Desa Kaliwedi, Desa Karangsari, Desa Kebasen, Desa Mandirancan, Desa Randegan, Desa Sawangan, Desa Tumiyang, Kecamatan Kedung Banteng, Desa Baseh, Desa Beji, Desa Dawuhan Kulon, Desa Dawuhan Wetan, Desa Kalikesur, Desa Kalisala, Desa Karangnangka, Desa Karangsalam Kidul, Desa Kebocoran, Desa Kedungbanteng, Desa Keniten, Desa Kutaliman, Desa Melung, Desa Windujaya, Kecamatan Kembaran, Desa Bantarwuni, Desa Bojongsari, Desa Dukuhwaluh, Desa Karangsari, Desa Karangsoka, Desa Karangtengah, Desa Kembaran, Desa Kramat, Desa Ledug, Desa Linggasari, Desa Pliken, Desa Purbadana, Desa Purwodadi, Desa Sambeng Kulon, Desa Sambeng Wetan, Desa Tambaksari Kidul, Kecamatan Kemranjen, Desa Alasmalang, Desa Grujugan, Desa Karanggintung, Desa Karangjati, Desa Karangsalam, Desa Kebarongan, Desa Kecila, Desa Kedungpring, Desa Nusamangir, Desa Pageralang, Desa Petarangan, Desa Sibalung, Desa Sibrama, Desa Sidamulya, Desa Sirau, Kecamatan Lumbir, Desa Besuki, Desa Canduk, Desa Cidora, Desa Cingebul, Desa Cirahab, Desa Dermaji, Desa Karanggayam, Desa Kedunggede, Desa Lumbir, Desa Parungkamal, Kecamatan Patikraja, Desa Karanganyar, Desa Karangendep, Desa Kedungrandu, Desa Kedungwringin, Desa Kedungwuluh Kidul, Desa Kedungwuluh Lor, Desa Notog, Desa Patikraja, Desa Pegalongan, Desa Sawangan Wetan, Desa Sidabowa, Desa Sokawera Kidul, Desa Wlahar Kulon, Kecamatan Pekuncen, Desa Banjaranyar, Desa Candinegara, Desa Cibangkong, Desa Cikawung, Desa Cikembulan, Desa Glempang, Desa Karangkemiri, Desa Karangklesem, Desa Krajan, Desa Kranggan, Desa Pasiraman Kidul, Desa Pasiraman Lor, Desa Pekuncen, Desa Petahunan, Desa Semedo, Desa Tumiyang, Kecamatan Purwojati, Desa Gerduren, Desa Kaliputih, Desa Kalitapen, Desa Kaliurip, Desa Kaliwangi, Desa Karangmangu, Desa Karangtalun Kidul, Desa Karangtalun Lor, Desa Klapasawit, Desa Purwojati, Kecamatan Purwokerto Barat, Desa Kedungwuluh, Desa Kober, Desa Bantarsoka, Desa Rejasari, Desa Pasir Kidul, Desa Karanglewas Lor, Desa Pasirmuncang, Kecamatan Purwokerto Selatan, Desa Purwokerto Kulon, Desa Karang Pucung, Desa Karang Klesem, Desa Tanjung, Desa Teluk, Desa Berkoh, Desa Purwokerto Kidul, Kecamatan Purwokerto Timur, Desa Purwokerto Wetan, Desa Mersi, Desa Arcawinangun, Desa Purwokerto Lor, Desa Sokanegara, Desa Kranji, Kecamatan Purwokerto Utara, Desa Bancarkembar, Desa Grendeng, Desa Karangwangkal, Desa Pabuaran, Desa Sumampir, Desa Bobosan, Desa Purwanegara, Kecamatan Rawalo, Desa Banjarparakan, Desa Losari, Desa Menganti, Desa Pesawahan, Desa Rawalo, Desa Sanggreman, Desa Sidamulih, Desa Tambaknegara, Desa Tipar, Kecamatan Sokaraja, Desa Banjaranyar, Desa Banjarsari Kidul, Desa Jompo Kulon, Desa Kalikidang, Desa Karangduren, Desa Karangkedawung, Desa Karangnanas, Desa Karangrau, Desa Kedondong, Desa Klahang, Desa Lemberang, Desa Pamijen, Desa Sokaraja Kidul, Desa Sokaraja Kulon, Desa Sokaraja Lor, Desa Sokaraja Tengah, Desa Sokaraja Wetan, Desa Wiradadi, Kecamatan Somagede, Desa Kanding, Desa Kemawi, Desa Klinting, Desa Piasa Kulon, Desa Plana, Desa Sokawera, Desa Somagede, Desa Somakaton, Desa Tanggeran, Kecamatan Sumbang, Desa Banjarsari Kulon, Desa Banjarsari Wetan, Desa Banteran, Desa Ciberem, Desa Datar, Desa Gandatapa, Desa Karangcegak, Desa Karanggintung, Desa Karangturi, Desa Kawungcarang, Desa Kebanggan, Desa Kedung Malang, Desa Kotayasa, Desa Limpakuwus, Desa Sikapat, Desa Silado, Desa Sumbang, Desa Susukan, Desa Tambaksogra, Kecamatan Sumpiuh, Desa Banjarpanepen, Desa Bogangin, Desa Karanggedang, Desa Kebokura, Desa Kemiri, Desa Ketanda, Desa Kradenan, Desa Kuntili, Desa Lebeng, Desa Nusadadi, Desa Pandak, Desa Selandaka, Desa Selanegara, Desa Sumpiuh, Kecamatan Tambak, Desa Buniayu, Desa Gebangsari, Desa Gumelar Kidul, Desa Gumelar Lor, Desa Kamulyan, Desa Karangpetir, Desa Karangpucung, Desa Pesantren, Desa Plangkapan, Desa Prembun, Desa Purwodadi, Desa Watuagung, Kecamatan Wangon, Desa Banteran, Desa Cikakak, Desa Jambu, Desa Jurangbahas, Desa Klapagading, Desa Klapagading Kulon, Desa Pangadegan, Desa Randegan, Desa Rawaheng, Desa Wangon, Desa Windunegara, Desa Wlahar, Patikraja, Desa Patikraja, Kecamatan Patikraja, Patikraja Guyub, Pasar Patikraja, Balai Desa Patikraja, Lapangan Patikraja, Jembatan logawa, Jembatan Serayu, info Patikraja, MTs Muhammadiyah Patikraja, Masjid Baitul Muslimin Patikraja, Sungai Logawa, Sungai Serayu, Jembatan Kali Terus, SMP Negeri 1 Patikraja, SMP Negeri 2 Patikraja, SD Negeri 1 Patikraja, SD Negeti 2 Patikraja, Madrasah Iptidaiyah Patikraja, Madrasah Iptidaiyah Maarif Patikraja, SMA Negeri Patikraja, UPK Patikraja, KUA Patikraja, PPAI Patikraja, TK Pertiwi Patikraja, TK Diponegoro Patikraja, Organisasi Muhammadiyah Patikraja, Organisasi Nahdlatul Ulama Patikraja, Ranting Muhammadiyah Patikraja, Ranting Nahdlatul Ulama Patikraja, IPPNU Patikraja, IRM Patikraja, Apotik Patikraja, BRI Patikraja, Mandiri Patikraja, Mini Market Patikraja, Puskesmas Patikraja, Kantor Kecamatan Patikraja, Gedung Da’wah Muhammadiyah Patikraja, KUD Patikraja, Ahass Patikraja, TK aisiyah Patikraja, Remaja Masjid Patikraja, Bengkel Patikraja, Dana mentari Patikraja, PGRI Patikraja, Polsek Patikraja, Dan Ramil Patikraja, Babinsa Patikraja, Warnet Lapangan Patikraja, Gilingan Padi Patikraja, Kecelakaan lalu-lintas di Patikraja, Penghulu Patikraja, Blogspot Patikraja, keyword Pattikraja, Pencarian Kata Kunci Patikraja, Patikraja Mendowan Maniaks, Sawah Patikraja, Guru SMP Patikraja, Guru SD Patikraja, Guru TK Patikraja, TPQ Patikraja, Mushola di Patikraja, Gedung Patikraja, Bank Jateng Patikraja, BKK Patikraja, Danamon Patikraja, Warnet Legion Patikraja, Warnet Zaky Patikraja, Zakynet Patikraja, Legionnet Patikraja, Hokerynet Patikraja, Warnet Hokery Patikraja, Masjid Sirojul Patikraja, Mushola Almaulana Patikraja, SSB Patikraja, facebook Patikraja, Jalan Balai Desa Patikraja, Counter Hp Patikraja, Logawa Celluler Patikraja, Zullfa Celluler Patikraja, G Celluler Patikraja, Foto Copy Patikraja, Kuburan Patikraja, Bantaran Sungai Patikraja, Warung Sate Dua Saudara Patikraja, Toko Roti Patikraja, Bank Surya Yudha Patikraja, Paving Block Patikraja, Toko Bahan Bangunan Patikraja, Toko Viola Patikraja, Toko Kacek Patikraja, Toko Gimin Patikraja, Perangkat Desa Patikraja, Pemdes Patikraja, Desa Pegalongan, Desa Mandirancan, Mendowan Mendol, Budz Burger, Ngepas Patikraja,









No comments:

Post a Comment

Mohon Tidak memberikan komentar berbau "SARA"

POS TERPOPULER

Legenda Patikraja

Awal peradaban Desa Patikraja Patikraja zaman dahulu adalah lokasi penyeberangan perjalanan menuju pantai selatan.Hingga di daerah ini ...